Download video clip Sam Saimun Di Wajahmu Kulihat Bulan
Darwin Baharuddin, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya, sejak kecil tinggal di Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, hingga tamat SMA.
Lalu roda nasib dan peruntungan mulai memutar dan menggelandangnya tiada henti. Tradisi merantau diawali ketika terdampar di Bandung pada akhir 1969.
Di tanah Priangan -yang waktu itu masih sejuk dan nyaman- sajak-sajaknya dimuat beberapa media lokal dan ibukota serta bulletin/tabloid lokal tempat dia kuliah dan bekerja.
Tulisannya telah dipublikasikan dalam antologi puisi Senandung Camar Pesisir (Acehmediakreasindo, 2007), dan Antara Ketambe dan Suak Belimbing (Aliansi Sastrawan Aceh, 2008) bersama karya penyair Aceh , Basri Emka.
Beberapa sample puisi:
LELAKI YANG BERJALAN KE MATAHARI
di penghujung senja sejenak berhenti
di ujung desa dari keletihan mendera mata
aku masuk ke rumah tua yang tersisa
lelaki tua sendirian disitu baru saja pergi
tak pernah kembali orang-orang tak mengaji
juga tak setitikpun tumpah air mata
karena lelaki tua hanya pergi ke matahari
membakar segulung kisah
dan beberapa butir rahasia
di dapurnya teronggok tungku berdebu
seikat kayu bakar urung menyala
tak sempat mengubur pesan dalam
sebuah surat untuk seorang perempuan
dalam bahasa sesal berkepanjangan:
“aku tak perlu meminta maafmu,
karena itu akan lebih menyakitkanku
yang ingin kukatakan adalah sebuah prahara
yang terlambat tiba sebab tak selamanya
keraguan itu bermuara kepastian
terombang-ambing dalam penantian
tak sepenuhnya berawal dari kesalahan
telah kujaring beribu bulan
menyibak ilalang tempat berbaring perasaan
menimbang-nimbang jawaban
tapi setiap kali aku dihempas kebimbangan
aku telah pergi ke ladang-ladang muram
berteduh di pohon-pohon malam
dan kemudian begitu saja kutinggalkan
karena sesungguhnya aku mengharap matahari
berhentilah menanti semua mimpi terkadang
menyimpan belati menikam tak mati-mati
hanya geram berduri-duri tak ada lagi nyanyi
yang kukirimkan lewat hujan pagi
dan semua itu bukan salahmu
matahari tak pernah lekang di rinduku
biarkan aku berjalan lagi membawa sisa gerimis
mungkin matahari akan mengeringkan sebisanya,
salam untuk malam-malammu semoga tak buram”
sebelum keluar dari rumah lelaki
yang pergi ke matahari
aku berkaca di sekat ruang sempit
dan melihat wajahnya di cermin
memantulkan rasa sakit – teramat sakit
Bandung, 2009
PEREMPUAN BULAN
yang sedang uncang angge memintal benang
memilin-milinnya dengan sebelah tangan
menyulam nasib yang sudah ditakdirkan
perlahan mengulurkan tali gantungan
dititipkannya pada angin menembus awan
menebar suaka sejak awal kehidupan
dan bayi-bayipun lelap dalam dekapan
di belahan dada berbantal payudara
dimana sungai susu mengalir menimang nyawa
melawan kantuk yang mendera
tak ada keluh atas persekutuan yang cedera
begitulah fakta pada malam-malam selanjutnya
setelah malam merah muda yang berisik
bulan merayap lamban, setelah malam yang berbisik
diawal penciptaan dengan sepenggal nyanyian klasik
mengusik perut dan pinggang sepanjang penantian
dan hari-hari lewat memikul beban sendirian
yang sedang telentang memungut mimpi dari tepi bulan
meringis sebisanya mencegah kelaparan atau yang
merintih hingga pintu berderak menawarkan kemewahan
perahu-perahu berlayar diatasnya menuliskan duka ibu
nasib memang bukan sesuatu yang instan tapi akibat pilihan
yang telah diputuskan dalam bingkai takdir sejak permulaan
membiarkan malam mencatatkan kelam disekujur halaman
di sisa-sisa kenyal buah dada di tubuh remuk kelelahan
perempuan bertarung dibatas keengganan dan keterpaksaan
adalah hasil pilihan yang kadang terkapar di ketidakberdayaan
yang sedang menidurkan gelisah lelaki di ladang-ladang bulan
menyemai benih dikedalaman kemudian memetiknya sebelum
burung pemakan bangkai melemparkan nista buah khuldi
perempuan yang berdiri di sela-sela pepohonan
membiarkan cinta memanjat hingga pucuk rambutnya
seperti pelabuhan menumpahkan kehangatan dari tepian
membelenggu kembara berlayar lagi
yang sedang berbaring tenang di kenyamanan bulan
dari bawah nisan mengirim pesan-pesan penunjuk jalan
adalah perempuan perkasa yang memaafkan segala dosa
sebelum diminta, sebelum bulan tertutup gerhana.
Pasirmulya, 2009
LAUT RINDU
kerinduanku pada laut bukanlah kerinduan biasa
tak sama dengan rindu ombak kepada pantai tapi
lebih mirip rindu pelaut pada kehangatan daratan
kegairahan pelabuhan kemudian ditinggalkan
karena layar tak pernah sepenuhnya digulung
camar-camar yang bertengger di tiang kapal
menjerit-jerit mengabarkan petang telah
mengumpulkan angin di buritan
memanggil-manggil untuk berlayar lagi
ke laut dimana rindu dipendam dalam-dalam
menjadi gumpalan-gumpalan kisah menyelipkan
catatan rahasia jauh di dasar kenangan
di sela-sela karang tajam
ada juga yang terapung di permukaan kemudian
hanyut diseret arus ke utara benua
dan sebagian dihembus badai ke benua utara
sisanya remuk dilindas keriuhan tak kunjung reda
karena laut bukan tempat lalu lalang kekakanakan
maka tak ada gelas tempat air mata disana
yang ada hanya kesunyian petualang
matahari begitu akrab tetapi waktu tak pernah
sungguh-sungguh bisa berbagi
walau sedikit tempat untuk merebahkan bulan
terkantuk dan kesiangan
kerinduanku pada laut bukan rindu yang biasa
tak seperti rindu ibu kepada si sulung pengembara
rinduku lebih mirip seperti rindu pelacur Red Lamp
yang merindukan gereja untuk pengakuan dosa
disetiap langkah dalam hitungan deret ukur beban
kehidupan bertahan dari gigil musim dingin
setelah itu kembali berdiri dibalik etalase kaca
menumpuk rindu lagi mengais firman yang tersisa
dan menyimpannya hingga musim semi tiba.
selalu saja ada yang datang membawa kabar
dari laut menagih rindu dan sunyi yang terbakar
menggelepar-gelepar di teluk sebelum semuanya
padam tenggelam di kerinduan laut yang lain.
Pangalengan, 2009
PERBINCANGAN YANG TERTUNDA
:/yuyun
kemudian kita berdiam diri lama sekali
menunggu bumi menyelesaikan urusan rotasi
menata ritmenya agar berputar seperti biasa
tak boleh terlalu cepat kita bisa pening kepala
lambatpun berbahaya semua tumpah ke antariksa
yang sedang saja seirama tawaf mengitari Baitullah
tak usah berlari kencang mengejar matahari
santai saja seperti sa’i dari Shafa ke Marwa
kita tunggu saja disini sampai tuntas masalahnya
dan kemudian kita hanya saling tatap lama sekali
menduga dasar laut menaksir puncak bukit
lebih baik kita usir kabut sambil meredam sakit
atau barangkali menunggu kata-kata dari langit
tak semua percakapan harus diucapkan
ada yang semestinya tersangkut di kebisuan
tapi kau terus memaksaku mengait bulan
dan menghamparkan sinarnya dari kejauhan
tunggulah sebentar lagi setelah bulan sabit pergi
kata-kata tak lagi bermakna ketika tiba purnama
Bandung, 2009



Komentar Terakhir