Puisi-puisi yang menunggu penerbit.

13 01 2010




Download video clip Sam Saimun Di Wajahmu Kulihat Bulan
Darwin Baharuddin
, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya, sejak kecil tinggal di Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, hingga tamat SMA.

Lalu roda nasib dan peruntungan mulai memutar dan menggelandangnya tiada henti. Tradisi merantau diawali ketika terdampar di Bandung pada akhir 1969.

Di tanah Priangan -yang waktu itu masih sejuk dan nyaman-  sajak-sajaknya dimuat beberapa media lokal dan ibukota serta bulletin/tabloid lokal tempat dia kuliah dan bekerja.

Tulisannya telah  dipublikasikan dalam antologi puisi Senandung Camar Pesisir (Acehmediakreasindo, 2007), dan Antara Ketambe dan Suak Belimbing (Aliansi Sastrawan Aceh, 2008)  bersama karya penyair Aceh , Basri Emka.

Beberapa sample puisi:

LELAKI YANG BERJALAN KE MATAHARI

di penghujung senja sejenak berhenti

di ujung desa dari keletihan mendera mata

aku masuk ke rumah tua yang tersisa

lelaki tua sendirian disitu baru saja pergi

tak pernah kembali orang-orang tak mengaji

juga tak setitikpun tumpah air mata

karena lelaki tua hanya pergi ke matahari

membakar segulung kisah

dan beberapa butir rahasia

di dapurnya teronggok tungku berdebu

seikat kayu bakar urung menyala

tak sempat mengubur pesan dalam

sebuah surat untuk seorang perempuan

dalam bahasa sesal berkepanjangan:

“aku tak perlu meminta maafmu,

karena itu akan lebih menyakitkanku

yang ingin kukatakan adalah sebuah prahara

yang terlambat tiba sebab tak selamanya

keraguan itu bermuara kepastian

terombang-ambing dalam penantian

tak sepenuhnya berawal dari kesalahan

telah kujaring beribu bulan

menyibak ilalang tempat berbaring perasaan

menimbang-nimbang jawaban

tapi setiap kali aku dihempas kebimbangan

aku telah pergi ke ladang-ladang muram

berteduh di pohon-pohon malam

dan kemudian begitu saja kutinggalkan

karena sesungguhnya aku mengharap matahari

berhentilah menanti semua mimpi terkadang

menyimpan belati menikam tak mati-mati

hanya geram berduri-duri tak ada lagi nyanyi

yang kukirimkan lewat hujan pagi

dan semua itu bukan salahmu

matahari tak pernah lekang di rinduku

biarkan aku berjalan lagi membawa sisa gerimis

mungkin matahari akan mengeringkan sebisanya,

salam untuk malam-malammu semoga tak buram”

sebelum keluar dari rumah lelaki

yang pergi ke matahari

aku berkaca di sekat ruang sempit

dan melihat wajahnya di cermin

memantulkan rasa sakit – teramat sakit

Bandung, 2009

PEREMPUAN BULAN

yang sedang uncang angge memintal benang

memilin-milinnya dengan sebelah tangan

menyulam nasib yang sudah ditakdirkan

perlahan mengulurkan tali gantungan

dititipkannya pada angin menembus awan

menebar suaka sejak awal kehidupan

dan bayi-bayipun lelap dalam dekapan

di belahan dada berbantal payudara

dimana sungai susu mengalir menimang nyawa

melawan kantuk yang mendera

tak ada keluh atas persekutuan yang cedera

begitulah fakta pada malam-malam selanjutnya

setelah malam merah muda yang berisik

bulan merayap lamban, setelah malam yang berbisik

diawal penciptaan dengan sepenggal nyanyian klasik

mengusik perut dan pinggang sepanjang penantian

dan hari-hari lewat memikul beban sendirian

yang sedang telentang memungut mimpi dari tepi bulan

meringis sebisanya mencegah kelaparan atau yang

merintih hingga pintu berderak menawarkan kemewahan

perahu-perahu berlayar diatasnya menuliskan duka  ibu

nasib memang bukan sesuatu yang instan tapi akibat pilihan

yang telah diputuskan dalam bingkai takdir sejak permulaan

membiarkan malam mencatatkan kelam disekujur halaman

di sisa-sisa kenyal buah dada di tubuh remuk kelelahan

perempuan bertarung dibatas keengganan dan keterpaksaan

adalah hasil pilihan yang kadang terkapar di ketidakberdayaan

yang sedang menidurkan gelisah lelaki di ladang-ladang bulan

menyemai benih dikedalaman kemudian memetiknya sebelum

burung pemakan bangkai melemparkan nista buah khuldi

perempuan yang berdiri di sela-sela pepohonan

membiarkan cinta memanjat hingga pucuk rambutnya

seperti pelabuhan menumpahkan kehangatan dari tepian

membelenggu kembara berlayar lagi

yang sedang berbaring tenang di kenyamanan bulan

dari bawah nisan mengirim pesan-pesan penunjuk jalan

adalah perempuan perkasa yang memaafkan segala dosa

sebelum diminta, sebelum bulan tertutup gerhana.

Pasirmulya, 2009

LAUT RINDU

kerinduanku pada laut bukanlah kerinduan biasa

tak sama dengan rindu ombak kepada pantai tapi

lebih mirip rindu pelaut pada kehangatan daratan

kegairahan pelabuhan kemudian ditinggalkan

karena layar tak pernah sepenuhnya digulung

camar-camar yang bertengger di tiang kapal

menjerit-jerit mengabarkan petang telah

mengumpulkan angin di buritan

memanggil-manggil untuk berlayar lagi

ke laut dimana rindu dipendam dalam-dalam

menjadi gumpalan-gumpalan kisah menyelipkan

catatan rahasia jauh di dasar kenangan

di sela-sela karang tajam

ada juga yang terapung di permukaan kemudian

hanyut diseret arus ke utara benua

dan sebagian dihembus badai ke benua utara

sisanya remuk dilindas keriuhan tak kunjung reda

karena laut bukan tempat lalu lalang kekakanakan

maka tak ada gelas tempat air mata disana

yang ada hanya kesunyian petualang

matahari begitu akrab tetapi waktu tak pernah

sungguh-sungguh bisa berbagi

walau sedikit tempat untuk merebahkan bulan

terkantuk dan kesiangan

kerinduanku pada laut bukan rindu yang biasa

tak seperti rindu ibu kepada si sulung pengembara

rinduku lebih mirip seperti rindu pelacur Red Lamp

yang merindukan gereja untuk pengakuan dosa

disetiap langkah dalam hitungan deret ukur beban

kehidupan bertahan dari gigil musim dingin

setelah itu kembali berdiri dibalik etalase kaca

menumpuk rindu lagi mengais firman yang tersisa

dan menyimpannya hingga musim semi tiba.

selalu saja ada yang datang membawa kabar

dari laut menagih rindu dan sunyi yang terbakar

menggelepar-gelepar di teluk sebelum semuanya

padam tenggelam di kerinduan laut yang lain.

Pangalengan, 2009

PERBINCANGAN YANG TERTUNDA

:/yuyun

kemudian kita berdiam diri lama sekali

menunggu bumi menyelesaikan urusan rotasi

menata ritmenya agar berputar seperti biasa

tak boleh terlalu cepat kita bisa pening kepala

lambatpun berbahaya semua tumpah ke antariksa

yang sedang saja seirama tawaf mengitari Baitullah

tak usah berlari kencang mengejar matahari

santai saja seperti sa’i dari Shafa ke Marwa

kita tunggu saja disini sampai tuntas masalahnya

dan kemudian kita hanya saling tatap lama sekali

menduga dasar laut menaksir puncak bukit

lebih baik kita usir kabut sambil meredam sakit

atau barangkali menunggu kata-kata dari langit

tak semua percakapan harus diucapkan

ada yang semestinya tersangkut di kebisuan

tapi kau terus memaksaku mengait bulan

dan menghamparkan sinarnya dari kejauhan

tunggulah sebentar lagi setelah bulan sabit pergi

kata-kata tak lagi bermakna ketika tiba purnama

Bandung, 2009

Iklan